JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SIDOLITKAJI

Potensi Pemanfaatan Limbah Industri Pangan di Bangka Belitung Untuk Meningkatkan Produktifitas Ternak

Industri Pengolahan bahan pangan merupakan industry yang terus berkembang di karenakan selama manusia tetap membutuhkan pangan maka industri tersebut akan terus berjalan sejalan dengan pertumbuhan jumlah manusia.

Di kawasan Kepulauan Bangka Belitung sendiri industry pengolahan bahan pangan cukup banyak diantaranya Industri Kecap, Industri Tepung Tapioka, Industri Kelapa Sawit, Industri Pengolahan Padi, Industri Pengolahan Hasil Laut. Industri tersebut tentunya menghasilkan produk utama yang mempunyai nilai yang tinggi akan tetapi akan timbul limbah hasil samping dari pengolahan bahan-bahan pangan tersebut yang tentunya jika tidak dimanfaatkan akan menimbulkan masalah tersendiri seperti pencemaran lingkungan dan dampak lainnya.

Hasil limbah pengolahan bahan pangan tersebut yang dianggap mempunyai nilai yang rendah dan kurang bermanfaat akan mempunyai nilai lebih jika dimanfaatkan sebagai pakan ternak baik ternak ruminansia ataupun non ruminansia yang tentunya tidak kalah dibandingkan dengan pakan komersial dalam hal  peningkatan produktifitas ternak. Saat ini usaha peternakan mempunyai kendala,  salah satunya adalah biaya pakan mencapai 70-80 % biaya produksi, sehingga jika mampu meningkatkan efisiensi pakan maka hasil yang diperoleh tentunya semakin besar. Salah satu usaha untuk mengurangi biaya tersebut adalah mencari sumber pakan alternatif dengan kualitas tinggi, harga murah dan tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Salah satu alternative sumber pakan yang murah dan berkualitas adalah limbah industri pangan.

Beberapa industri pengolahan Bahan Pangan yang ada di Kep Bangka Belitung adalah :

1. Industri Kecap

Di Pulau Bangka Belitung terdapat beberapa Industry Kecap terutama terdapat di Sungai Liat Kab Bangka, Pada pengolahan kedelai menjadi kecap akan di hasilkan limbah berupa Ampas Kecap yang mempunyai potensi yang besar unuk dijadikan pakan ternak unggulan. Ampas Kecap sendiri mempunyai kandungan nutrisi berupa ME (Metabolizable Energy) 2400-3000 Kkal/Kg, BK 80 %, PK 20-30 %, SK 7-16 %, LK 12-24 %, Ca 0.39 %.

Ampas kecap menurut beberapa penelitian dapat digunakan sebagai bahan pakan yang cukup bagus salah satunya adalah hasil penelitian dari Maharani (2001) menunjukkan bahwa penggunaan ampas kecap sebagai pakan ternak unggas sampai 10% dalam pakan ternyata mempengaruhi pertambahan bobot badan dan konversi pakan ayam pedaging periode finisher, tetapi  tidak mempengaruhi konsumsi pakan.  Sehingga dianjurkan menggunakan ampas kecap sampai dengan 10 % untuk mendapatkan hasil produksi ayam pedaging yang optimal.

Sedangkan menurut penelitian Herdiana et all (2014) tentang pengaruh ampas kecap dalam pakan terhadap Itik local jantan menunjukkan bahwa pemberian ampas kecap pada ransum sampai 15 %  tidak mempengaruhi Pertambahan Bobot Harian, Konsumsi Pakan, Konversi Pakan itik local jantan tetapi jika dilihat dari susunan ransum maka ampas kecap mampu menggantikan/subtitusi Konsentrat sampai sekitar 10 % dan menghasilkan performance yang tidak berbeda, sehingga hal ini  akan berpengaruh terhadap penurunan biaya pakan dan biaya produksi dan berarti ampas kecap layak untuk diberikan sebagai pakan ternak.

Tabel 1. Komposisi Pakan Pada Peneltian tersebut

Bahan Pakan P0 P1 P2 P3
Meni Jagung (%) 34.5 34.5 34.5 34.5
Dedak Halus (%) 40 38.5 37 35.5
Konsentrat (%) 25 21.5 18 14.5
Ampas Kecap (%) 0 5 10 15
Mineral B12 (%) 0.5 0.5 0.5 0.5
Total 100 100 100 100

 

2. Industri Tepung Tapioka

Pabrik Tapioka di Bangka Belitung cukup berkembang dan hampir tersebar di semua Kabupaten contohnya di Tempilang Bangka Barat, Sungai Liat Bangka, Bangka Selatan, dan di Belitung Timur. Industri ini membutuhkan bahan baku berupa singkong yang mana produksi singkong di Prov Bangka Belitung sendiri mencapai kurang lebih 50.000 Ton/Tahun yang akan diolah menjadi tepung tapioca yang merupakan bahan baku berbagai olahan produk pangan. Selain menghasilkan produk tepung tapioka hasil sampingan atau limbah industry ini berupa Ampas Tapioca atau onggok dan kulit singkong yang tentunya jumlahnya cukup banyak. Onggok dan kulit singkong merupakan produk yang cukup potensial untuk menjadi pakan ternak .

Menurut Balai Penelitian Ternak (2016) Onggok mempunyai potensi yang besar untuk menjadi pakan tetapi mempunyai keterbatasan yaitu nilai nutrisinya yang rendah (PK sekitar 2,2 % dan Serat Kasar 10,8 %) sehingga untuk dapat menjadi pakan yang baik kualitas onggok perlu ditingkatkan. Salah satu pendekatan yang dikembangkan Balitnak adalah dengan melakukan fermentasi/biofermentasi terhadap onggok tersebut menggunakan spora Aspergillus Niger. Proses fermentasi yang dilakukan Balitnak adalah setiap 1 kg onggok ditambahkan campuran mineral yang tersusun dari 40 g urea, 5 g MgSO4, 72 g ZA [(NH4)2SO4], 1,5 g KCl, 15 g NaH2PO4 dan 0,75 g FeSO4. Onggok yang telah diberi campuran mineral tersebut selanjutnya diberi serbuk spora satu sendok makan (6-8 g), dan ditambahkan air panas untuk memperoleh kadar akhir adonan 60%. Selanjutnya adonan ditempatkan pada wadah/ baki plastik. Fermentasi dilakukan selama 3-5 hari. Proses fermentasi yang berhasil ditandai dengan munculnya warna keabuan dan kompak pada permukaan adonan. Apabila ditemukan warna miselium yang kehitam-hitaman, berarti proses fermentasi berlangsung tidak sempurna atau telah terjadi kontaminasi. Onggok yang terfermentasi sempurna kemudian dipanen, dikeringkan, dan digiling untuk selanjutnya digunakan sebagai salah satu bahan baku ransum.

 

Tabel 2. Kandungan Nutrisi Onggok tanpa fermentasi dan onggok fermentasi

Nutrisi

Tanpa Fermentasi

Fermentasi

 

% BK

Protein Kasar

2.2

18.6

Karbohidrat

51.8

36.2

Abu

2.4

2.6

Serat Kasar

10.8

10.45

(Balitnak, 2016)

 Onggok Fermentasi tersebut kemudian di manfaatkan sebagai penyusun ransum ayam kampung petelur yang dipelihara secara kelompok dan individu dan diberikan sebesar 10 % ternyata    meningkatkan produksinya masing-masing 9,7 % dan 30,9 % dan juga mengalami peningkatan bobot telur yang dihasilkan dan bahkan penggunaan onggok terfermentasi tersebut bisa menekan biaya pakan jika diasumsikan onggok terfermentasi mensubtitusi Jagung sebesar 15 %. Hal ini membuktikan potensi besar onggok sebagai bahan pakan terutama di Bangka Belitung dan tentunya diperlukan kajian lebih lanjut.

 

3. Industri Perikanan/Hasil Laut

Provinsi Bangka Belitung merupakan provinsi kepulauan yang dapat dipastikan kaya akan hasil lautnya dan dapat dipastikan maka industri perikanan/hasil lautnya pun pasti akan berkembang. Bahkan produksi ikan yang diekspor di tahun 2017 mencapai Rp. 157,617 Miliar atau lebih dari 5,7 juta Kg.

Industri perikanan/hasil laut menghasilkan 2 produk besar yaitu yang pertama ikan/hasil lautnya sendiri untuk ekspor/konsumsi domestik dan yang kedua produk olahan ikan/hasil laut seperti terasi, krupuk ikan, ikan kering, sale ikan dan masih banyak lagi. Seperti industri- industri lainnya pasti akan menghasilkan limbah industri yang dapat berupa kulit, kepala, sisik, tulang ikan yang akan menjadi masalah lingkungan jika tidak di olah atau dimanfaatkan. Salah satu pemanfaatan limbah tersebut adalah  menjadikannya sebagai bahan pakan ternak dengan sebelumnya diolah menjadi tepung ikan.

Tepung ikan sendiri mempunyai kandungan Nutrisi yang cukup tinggi yaitu PK 57-65 % sehingga berpotensi sebagai pakan sumber protein. Menurut penelitian yang dilakukan oleh  Hidayatullah (2015) penggunaan tepung ikan sampai 8% dari ransum ayam buras menunjukkan hasil yang baik jika dilihat dari parameter Konsumsi Pakan, Hen Day Production, Egg mass/Massa Telur, Konversi Pakan dan IOFC. Semua parameter tersebut menunjukkan hasil yang berbeda nyata jika dibanding ransum tanpa tepung ikan dan tentunya meningkatkan produktifitas dari ayam buras tersebut.

Uraian diatas adalah beberapa contoh industri pangan yang limbah hasil olahannya bisa kita manfaatkan sebagai sumber pakan ternak yang mempunyai potensi tinggi baik dari segi nutrisi maupun harga yang cukup murah sehingga sangat layak untuk dikaji lebih lanjut khususnya untuk di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.