JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SIDOLITKAJI

Teh Tayu : Salah Satu SDG Bangka Belitung

Sobat tani, jika kita mendengar kata "tanaman teh" terbesit dalam pikiran kita hamparan perkebunan teh dengan udara sejuk di perbukitan atau pegunungan. Bahkan langsung terbesit untuk menikmatinya untuk sekedar penghilang dahaga, relaksasi ataupun penghangat tubuh.

Namun hal ini akan berbeda sekali dengan tanaman teh yang terdapat di Kabupaten Bangka Barat, tepatnya di Dusun Tayu, Desa Ketap, Kecamatan Jebus. Tanaman teh yang terdapat di dusun Tayu atau saat ini dengan branding "Teh Tayu" justru tumbuh subur di daerah dataran rendah dengan iklim kering. Teh tersebut banyak dibudidayakan oleh masyarakat keturunan Tionghoa, di sekitaran halaman depan maupun belakang rumah dengan luasan yang bervariasi. Abun (60thn) salah seorang petani di Dusun Tayu yang hingga kini masih membudidayakan teh tersebut dengan luasan 2 ha mengungkapkan bahwa tanaman teh yang terdapat di halaman rumahnya merupakan warisan dari leluhur sebelumnya dan konon sudah berusia seabad lebih, yang masih terpelihara hingga sekarang.

Jika ditarik sejarah kebelakang, dengan masukknya etnis tionghoa ke pulau Bangka hal tersebut dapat dipahami. Hal ini karena pada saat penambangan timah oleh kolonial Belanda, banyak tenaga kerja dari Tiongkok yang didatangkan ke Pulau Bangka. Berbicara tentang teh, kehidupan masyarakat Tionghoa tidak terlepas dari budaya minum teh, sehingga dimungkinkan mereka membawanya dari negerinya.

Konon "Teh Tayu" yang sudah banyak mulai dikonsumsi dan diperdagangkan secara on line dapat mengurangi kolesterol, hipertensi dan efek relaksasi setelah meminumnya. Hingga saat ini Teh Tayu masih diolah secara tradisional oleh para petani, dan dipasaran dihargai Rp. 300.000/kg. Konsumen teh Tayu masih didominasi masyarakat Tionghoa, baik di wilayah Babel maupun di luar Babel.
Sebagai salah satu anugrah kekayaan keanekaragaman hayati negeri serumpun sebalai, hal tersebut tentunya perlu kajian ilmiah yang mendalam baik secara botani, taksonomi, kandungan dan komposisi dari teh tersebut bahkan secara genetis, sehingga benar-benar sebagai keunggulan negeri serumpun sebalai. Inisiasi kearah hal tersebut sudah dimulai dengan adanya perjanjian naskah kerjasama antara Pemkab Bangka Barat dengan Puslitbangbun dengan dukungan Balittri Kementan dan BPTP Balitbangtan Babel.
#savebabellocalgeneticresources