JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penyakit tungro pada padi

Tungro merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi. Penyebaran dapat meluas dengan cepat terutama apabila faktor-faktor pendukung perkembangannya tersedia seperti kepadatan populasi vektor utama wereng hijau (Nephotettix virescens) dan sumber infeksi. Penyakit ini harus diantisipasi sejak dini. Hal ini dikarenakan penyakit ini dapat menyebabkan gagal panen dan belum adanya tindakan pengendalian yang efektif untuk mengobati penyakit ini. Semakin muda stadia tanaman infeksi, semakin besar kehilangan hasilnya.  Pada intensitas serangan ringan kehilangan hasil diperkirakan mencapai 15%, intensitas serangan sedang mengakibatkan kehilangan hasil lebih kurang 35%, intensitas serangan berat mengakibatkan kehilangan hasil lebih kurang 59%. Apabila kehilangan hasil mencapai 79% ke atas maka daerah serangan dinyatakan sebagai puso. Yang dapat dilakukan hanyalah pemusnahan tanaman yang terserang dan upaya pencegahan kejadian penyakit di lapangan.

Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau terutama Nephotetix virescen dan menunjukkan gejala karena kombinasi 2 virus yaitu rice tungro basiliform (RTBV) dan Rice tungro spherical wekovirus (RTSV). Adapun gejala spesifik dari penyakit ini adalah daun berwarna kuning cerah yang dimulai dari daun ke-2 atau ke-3 dari pucuk, daun pucuk seperti terpelintir, anakan sedikit dan tanaman kerdil tapi tidak kaku. Pemusnahan tanaman yang terserang merupakan upaya untuk menghilangkan sumber penyakit di lapangan karena virus tersebut mampu bertahan selama tanaman inangnya masih hidup. Selain itu, penggunaan varietas tahan seperti Inpari 36 Taro (tahan tungro) juga dianjurkan tapi harus tetap diselingi penanamannya setiap musim tanam untuk mencegah patahnya ketahanan tanaman yang diimbangi dengan pola tanam jajar legowo. Pola ini dikenal dengan istilah Jarwo bio taro. Pengendalian vektor wereng hijau dapat dilakukan dengan penggunaan perangkap serangga ataupun penanaman tanaman refugia (bunga penarik serangga / predator) dan penggunaan pestisida adalah solusi akhir dari tindakan pengendalian. Sanitasi lahan juga penting dilakukan mengingat virus ini mampu bertahan pada beberapa jenis rumput sebagai inang alternatif.

Sumber : Dr. Fausiah T. Ladja, Kepala Loka Penelitian Penyakit Tungro