JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

AYAM MERAWANG AYAM LOKAL KHAS BANGKA BELITUNG

Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan sumber daya genetik, terutama sumber daya genetik ayam lokal (Sulandari et al., 2008). Ayam lokal Indonesia yang mempunyai ciri-ciri khusus telah beradaptasi dengan baik terhadap lingkungannya sehingga membentuk kelompok-kelompok sendiri. Ayam Merawang merupakan salah satu dari ayam lokal tersebut yang berasal dari spesies Gallus-gallus, family Phasianidae (Nataamijaya 2010).

Ayam Merawang pertama kali dibawa oleh penambang timah dari daratan Cina ke Indonesia pada masa penjajahan Belanda sekitar 300 tahun lalu. Dalam perkembangannya ayam ini sudah beradaptasi di daerah setempat sehingga ayam Merawang menjadi ayam lokal yang berasal dari Desa Merawang Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ayam merawang ditetapkan menjadi salah satu rumpun ayam lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan telah dibudidayakan secara turun-temurun dan merupakan kekayaan sumber daya genetik lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan (SK Mentan No. 2846/Kpts./LB.430/8/2012).

Ayam Merawang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai ayam dwiguna penghasil telur dan daging. Produksi telur dapat mencapai 120-125 butir/ekor/tahun (Hasnelly et al., 2006). Masyarakat pada umumnya memanfaatkan ayam Merawang sebagai sumber gizi keluarga. Disisi lain jenis ayam ini memiliki nilai estetika yang tinggi, khususnya untuk masyarakat Tionghoa yang masih mayoritas di Kepulauan Bangka Belitung yang memiliki tradisi upacara keagamaan yang terjadi empat kali dalam setahun. Selain itu ayam Merawang dapat dimanfaatkan sebagai tabungan keluarga yang sewaktu-waktu dapat dijual.

 

DESKRIPSI

  1. Wilayah sebaran : Propinsi Kepulauan Bangka Belitung
  2. Karakteristik :

Sifat Kualitatif               

  • Warna bulu seragam coklat kemerahan dan coklat keemasan
  • Bentuk jengger tunggal
  • Warna paruh kuning
  • Warna shank kuning
  • Warna kulit kuning dan putih kemerahan
  • Badan jantan : besar dan tegap, punggung agak panjang, bentuk dada lurus, sayap rapat dengan sisi badan, perut agak dalam, lebar dan berbentuk segitiga. Badan betina : lebih kecil dan kompak

Sifat Kuantitatif            

  • Bobot badan jantan 1,9-3,1 kg dan betina 1,35-2,5 kg
  • Panjang dada jantan 12,15±1,03 cm dan betina 9,75±0,69 cm
  • Lingkar dada jantan 29,98±2,08 cm dan 25,43±2,18 cm
  • Panjang paha atas jantan 12,92±1,55 cm dan betina 10,50±0,85 cm
  • Panjang paha bawah 14,46±1,45 cm dan 10,87±1,03 cm
  • Panjang rentang sayap jantan 17,56±1,36 cm dan betina 15,57±1,37 cm
  • Panjang punggung jantan 18,72±1,32 cm dan betina 17,23±1,51cm
  • Panjang shank jantan 6,77± 0,73 cm dan betina 6,23± 0,68 cm

 

KEUNGGULAN

1.  Memiliki pertumbuhan yang relatif tinggi

     Bobot badan ayam Merawang betina berkisar 1,35-2,5 kg/ekor dan bobot badan ayam Merawang jantan berkisar antara 1,9-3,1 kg/ekor

2.  Produksi telur yang tinggi

     Produksi telur dapat mencapai 120-125 butir/ekor/thn. Bertelur pertama kali pada umur 5,5 bulan. Bobot telur berkisar antara 38-45 g.

3.  Memiliki daya tahan tubuh yang baik

 

TEKNOLOGI BUDIDAYA AYAM MERAWANG

1. Pemilihan bibit yang berkualitas

    Pemilihan bibit ayam yang baik meliputi tidak cacat kaki, paruh normal, mata jernih, terang dan bulat; pergerakan lincah dan sehat; kaki kuat serta berdiri tegak serta bulu halus dan mengkilat.

2. Manajemen perkandangan

    Sistem perkandangan dalam pemeliharaan ayam merawang secara ekstensif dengan sistem kandang ren, halaman berpagar sebagai halaman untuk umbaran

3. Manajemen pakan

    Pakan yang diberikan adalah campuran dedak, konsentrat, bungkil sawit, tepung gliricidia, tepung singkong dan kapur. Frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore sedangkan air minum diberikan secara adlibitum.

4. Pengendalian penyakit dengan biosecurity secara teratur

    Sebagai bentuk pencegahan masuknya penyakit diperlukan desinfeksi kandang secara berkala terhadap kandang dan peralatannya.

5. Pemuliabiakan dengan mengatur perkawinan

    Teknik perkawinan yang dilakukan melalui penerapan perkawinan alami dengan rasio jantan dan betina 1:5.