JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SIDOLITKAJI

Potensi Pengembangan Kambing “Boerka “ di Pulau Bangka

Kambing “Boerka” merupakan hasil persilangan antara ras kambing “Boer” dengan ras kambing  “Kacang” yang dihasilkan oleh Loka Penelitian Kambing Potong, Sei Putih, Deli Serdang, Sumatera Utara. Bangsa kambing Boer merupakan salah satu jenis kambing dengan potensi pertumbuhan dan bobot hidup yang tinggi dan memiliki sifat fertilitas yang baik. Selain memiliki kapasitas bobot hidup besar,kambing Boer memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan baik pada berbagai kondisi klimat Sedangkan kambing kacang merupakan ras kambing daerah tropis yang memiliki keunggulan dan adaptasi terhadap kondisi lingkungan, namun di sisi lain kambingkacang memiliki keterbatasan yaitu memiliki bobot tubuh yang relatif kecil (14 – 16kg).

Keunggulan bobot lahir kambing Boerka secara rata-rata sebesar 42% dibandingkan dengan kambing Kacang dan bobot lahir jenis kelamin jantan cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan jenis kelamin betina. Bobot lahir terkait erat dengan daya hidup dan bobot hidup pada saat disapih, sehingga bobot lahir menjadi karakter yang menentukan dalam pencapaian tingkat efisiensi produksi. Bobot hidup kambing Boerka secara konsisten lebih tinggi dibandingkan dengan kambing Kacang pada berbagai umur.  Pada saat umur 3 bulan (sapih), 6, 9, 12 dan 18 bulan serta bobot dewasa (> 18 bulan) bobot hidup kambing Boerka jantan rata-rata lebih tinggi 36 – 45% dan pada kambing Boerka betina ratarata lebih tinggi 26 – 40% dibandingkan dengan kambing Kacang. Pada umur 12 atau 18 bulan kambing Boerka jantan telah mampu mencapai bobot hidup antara 26 – 36 kg. Sesuai dengan sifat jenis kelamin, maka laju pertumbuhan jantan lebih tinggi dibandingkan dengan betina, dan laju pertumbuhan anak dengan tipe kelahiran tunggal lebih tinggi dibandingkan pada kelahiran kembar. Rataan umum menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhan anak kambing Boerka masa prasapih sebesar 118 g/hari, jauh lebih tinggi dibandingkan pada kambing Kacang sebesar 52 – 70 g/hari (Ginting dan Mahmilia, 2008).

Dengan kharakteristik seperti itu, kambing Boerka merupakan ras kambing yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu pilihan untuk dikembangkan sebagai kambing pedaging di Pulau Bangka, karena dapat dipelihara dengan input sedang dan adaptif pada kondisi iklim tropis basah pada dataran rendah sehingga dapat dikembangkan oleh peternak tradisional maupun komersil. Potensi ini akan semakin meningkat apabila usahaternak kambing Boerka dapat diintegrasikan dengan usahatani lada yang dibudidayakan dengan menggunakan tiang panjat hidup seperti gamal/gliricidae, dimana sumber pangkasan tiang panjat hidup yang melimpah dapat digunakan sebakai pakan kambing, sedangkan limbah organik padat maupun cair dari usahaternak kambing Boerka dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Saat ini BPTP Balitbangtan Babel tengah mengembangkan kambing Boerka sebanyak 23 ekor, yang dipelihara di Kebun Percobaan (KP) Petaling.