JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Peluang Peningkatan Produksi Melalui Introduksi Vub Padi Sawah Tadah Hujan Berumur Genjah

Keberhasilan peningkatan produksi padi dalam beberapa tahun terakhir lebih didominasi oleh peningkatan produktivitas, dibandingkan dengan peningkatan luas panen. Peningkatan produktivitas memberikan kontribusi sekitar 56,1% terhadap peningkatan produksi padi, sedangkan peningkatan luas panen dan interaksi keduanya memberikan kontribusi masing-masing hanya 26,3% dan 17,5% (Sembiring dan Widiarta, 2008). Hal tersebut menunjukkan besarnya peran inovasi teknologi dalam menunjang peningkatan produksi padi. Karena melalui upaya perluasan areal sawah disamping membutuhkan waktu, juga memerlukan biaya yang relatif besar dibandingkan dengan biaya penelitian. Dalam upaya peningkatan produksi padi, untuk jangka pendek, penerapan inovasi teknologi lebih realistis dibandingkan upaya perluasan baku sawah.

Untuk itu dalam rangka mendukung pemenuhan kebutuhan beras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, BPTP Balitbangtan Kepulauan Bangka Belitung melalui kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) padi sawah, melaksanakan kegiatan perbenihan seluas 6,5 hektar di Kebun Percobaan (KP) Batu Betumpang, Kabupaten Bangka Selatan yang saat ini telah berumur 50 HST. Kondisi agroekosistem di Desa Batu Betumpang merupakan lahan sawah tadah hujan. Oleh karena itu, pengairan lahan sawah tadah hujan sangat ditentukan oleh curah hujan sehingga resiko kekeringan sering terjadi pada daerah tersebut di musim kemarau. Secara umum, areal persawahan hanya ditanami padi sekali dalam setahun dengan produktivitas yang tidak terlalu tinggi. Introduksi Varietas Unggul Baru (VUB) padi sawah khususnya yang spesifik lokasi merupakan terobosan yang diharapkan mampu mendongkrak produksi padi sawah dengan kondisi agroekosisitem tersebut.

Pada musim tanam 2017, melalui kegiatan UPBS telah dilakukan penanaman berbagai varietas unggul baru yang diharapkan memiliki kesesuaian dengan kondisi agroekosistem di Bangka Selatan. Beberapa VUB yang diintroduksikan antara lain, Inpari 23 Bantul, Inpari 24 Gabusan, Inpari 30 Ciherang Sub 1, Inpari 32 HDB, Inpari 39 dan Inpari 41. Dua varietas terakhir yakni Inpari 39 Tadah Hujan Agritan dan Inpari 41 Tadah Hujan Agritan merupakan VUB yang baru dilepas tahun 2015. Kedua VUB tersebut hampir memiliki karakteristik yang sama dengan basis lahan sawah tadah hujan dengan umur tanaman sekitar 115 hari setelah sebar, dengan tekstur nasi pulen dan toleran kerebahan. Kedua varietas tersebut, agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan blas, namun rentan terhadap virus tungro dan agak rentan terhadap wereng batang coklat biotipe 1, 2 dan 3. Inpari 39 memiliki potensi rata-rata hasil sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan Inpari 41 yaitu sekitar 5,89 t/ha GKG dan 5,57 t/ha GKG. Pada kondisi optimal Inpari 39 memiliki potensi hasil 8,45 t/ha GKG sedangkan Inpari 41, 7,83 t/ha GKG. Rendemen beras pecah kulit varietas  Inpari 39 adalah 79.37 % dan beras giling 69.38 % sedangkan Inpari 41 yaitu rendemen beras pecah kulit 77.8 % dan beras giling 75.60 %. Untuk itu, kedua varietas tersebut yang agak toleran kekeringan dianjurkan ditanam di daerah ekosistem sawah irigasi dan dataran rendah tadah hujan sampai ketinggian 600 mdpl.

Luas lahan sawah tadah hujan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung lebih luas dibandingkan lahan sawah irigasi, yang mencapai 12.136 hektar dimana 61,83 % terdapat di Kabupaten Bangka Selatan. Melalui introduksi VUB padi tadah hujan dan berumur genjah seperti Inpari 39 dan Inpari 31 diharapkan mampu mendongkrak produksi dan produktivitas padi sawah di Bangka Belitung. Untuk itu, upaya percepatan penyebaran VUB tersebut mutlak dilakukan untuk mensukseskan program swasembada beras di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang hingga saat ini baru mampu mensuplai sekitar 15% untuk kebutuhannya.