JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SIDOLITKAJI

Harga Mahal Belum Menjamin Kandungan Gizi Beras

Beras merupakan komoditas strategis, oleh karena itu peran pemerintah dari aspek produksi, distribusi, pemasaran, dan advokasi serta perlindungan ke produsen maupun konsumen menjadi penting.

Banyak pakar sudah memberikan penjelasan bahwa kandungan gizi utama antara beras premium dan medium relatif sama. Perbedaan antara beras kualitas premium dan medium hanyalah pada tampilan fisik yang berkaitan dengan persentase beras kepala dan derajat sosoh dari beras. Kualitas premium mensyaratkan persentase beras kepala lebih dari 95% yang kebanyakan diproses menggunakan rice milling yang relatif modern, sedangkan kualitas medium kurang dari 95% yang banyak diproses oleh rice milling berskala kecil-medium.

Dr. Ismail Wahab menyatakan bahwa "Saat kita memakan beras premium dan medium sejatinya kita memakan nasi dengan kandungan gizi utama yang sama". Penjelasan lebih lanjut disampaikan oleh Prof. Dr. Risfaheri yang menyatakan bahwa "Beras premium belum tentu lebih baik bagi kesehatan".

Merujuk penjelasan dari Kepala BB Penelitian Padi dan Kepala BB Pascapanen di atas dapat dinyatakan bahwa kualitas fisik dan harga belum dapat dijadikan indikator mutlak terhadap kandungan gizi dan kesehatan makanan.

Kenyataan ini membuktikan bahwa kandungan utama gizi pada beras tidak selalu linier dengan kualitas fisik dan harga beras. Fakta dilapangan juga menunjukkan adanya disparitas harga yang sangat tinggi antara beras premium dan bukan premium, dan umumnya masyarakat kita masih terbuai pada brand atau merek tertentu. Adanya peningkatan pendapatan dan tuntutan gaya hidup, seakan-akan beras premium lebih enak dan lebih bergizi sehingga konsumen bersedia membayar berapapun harganya. Disinilah nampaknya telah terjadi informasi yang asimetris terhadap kualitas, kandungan nutrisi dan harga beras. Informasi asimetris secara sederhana adalah kondisi yang terjadi ketika dua pihak yang bertransaksi tidak/belum memiliki informasi relevan yang sama, sebagai contoh pembeli yang tahu sedikit tentang kualitas produk dari penjual.

Sosialisasi dan pemahaman hubungan antara kualitas fisik, harga, dan kandungan gizi beras perlu ditingkatkan pada berbagai lapisan konsumen. Hal ini sejalan dengan yang diamanatkan oleh Inpres No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Rasa, warna, tekstur dan aroma beras menentukan preferensi konsumen. Indikator tersebut dipengaruhi oleh faktor genetis dan juga kegiatan panen dan pasca panen. Sebagian besar preferensi konsumen ditentukan oleh rasa/tekstur dan aroma. Tekstur yang diminati adalah pulen dengan aroma yang wangi.

Beras pulen dan pera ditentukan olek kadar amilosanya. Kandungan amilosa lebih dari 25% (pera), kadar amilosa 20 - 25% (sedang), dan kurang dari 20% tergolong pulen. Untuk memenuhi preferensi konsumen tanpa harus melakukan perlakuan khusus dan biaya tinggi telah disarankan untuk pemilihan varietas Balitbangtan yang menghasilkan beras dengan tekstur pulen di mana kadar amilosanya kurang dari 20% yang diantaranya adalah Inpari 2, 6, 18, 19, 23 dan 24; Hipa 10, Hipa Jatim 1, Inpago 5, Gilirang, Cimelati dan Sintanur.

 Untuk memenuhi preferensi konsumen yang mengiginkan beras dengan tekstur pulen dan wangi juga telah direlease varietas aromatik. Varietas aromatik adalah  varietas yang secara alami mampu mensintesis 2-Acetyl-1-Pyrroline (2-AP). Senyawa tersebut merupakan odouran kuat yang memiliki aroma wangi seperti pandan. Varietas-varietas aromatik yang adaptif dan potensi hasilnya tinggi diantaranya adalah Inpari 23, Sintanur, dan Gilirang. Inpari 23 memiliki tekstur nasi pulen, kadar amilosa17%, potensi hasil 9,2 t GKG/ha; Sintanur  tekstur nasi pulen, kadar amilose 18%, potensi hasil 7 t GKP/ha; Gilirang tekstur nasi pulen, kadar amilose 18,9% dan potensi hasil 7,5  t GKG/ha.

Untuk memenuhi standar/kandungan gizi utama dan preferensi konsumen dengan harga terjangkau sangat memungkinkan dengan ketersediaan inovasi varietas, budidaya, panen dan pasca panen, kemasan dan penyimpanan.

Produsen untung, pengusaha/ pedagang untung, dan konsumen terlindungi. Pertanian Jaya menjadi keinginan kita semua.