JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

SIDOLITKAJI

Inovasi kandang sapi “Model Litbangtan”

Usaha peternakan sapi potong di Indonesia sampai saat ini umumnya masih didominasi oleh peternakan rakyat kecil yang bersifat sampingan dengan teknologi manajemen sederhana. Di beberapa wilayah seperti Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi masih dijumpai sistem pemeliharaannya secara ekstensif, sapi secara sengaja diliarkan sepanjang hari dan hanya sedikit waktu berada di dalam kandang. Sistem perkawinan sapi yang dipelihara secara ektensif di padang pengembalaan umumnya kawin secara alami dengan pejantan yang ada pada kelompok sapi tersebut. Demikian juga program manajemen kesehatan ternak kurang optimal dan belum diterapkan secara intensif oleh peternak sehingga apabila terdapat kasus ternak sakit dibiarkan begitu saja, sehingga bisa menimbulkan kematian. Dari segi pakan juga seadanya dari rumput liar yang tersedia di alam.

Bebarapa masalah penting dalam peningkatan produktivitas sapi potong di Kepulauan Bangka Belitung adalah terlambatnya beranak pertama, jarak beranak yang lama/panjang, serta tingkat kematian pedet yang tinggi. Berdasarkan identifikasi Lukman Affandhy dkk (Peneliti Lolit Sapi Potong) tahun 2013 di Bangka Tengah bahwa tingginya tingkat gangguan reproduksi, dominan kawin berulang dan anestrus, sehingga tingkat kebuntingan rendah. Hal ini disebabkan sebagian peternak kurang waktu untuk mengamati berahi pada sapi indukan, beternak sapi hanya aktifitas sambilan, sementara waktu lebih banyak digunakan untuk komoditas lain seperti kebun lada, kelapa sawit, atau karet. Dampak lainnya, waktu pemberian pakan juga terbatas, umumnya pakan hanya diberikan dua kali dalam sehari.  

Untuk mengatasi hal ini, disarankan peternak menerapkan Kandang kelompok ‘Model Litbangtan”. Kandang ini merupakan salah satu inovasi teknologi manajemen sapi potong yang didesain dimana dalam satu kandang berisi beberapa ekor sapi dengan cara dilepas. Kandang model ini baik diaplikasikan untuk usaha penggemukan maupun pembibitan. Model pemeliharaan seperti ini dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja karena sapi tidak perlu dimandikan dan kotoran dibersihkan setiap 2-3 bulan atau ketika kotoran sudah mencapai ketebalan 25-30 cm. Dengan demikian, peternak memiliki banyak waktu luang untuk melakukan aktivitas lainnya. Disamping itu sapi dapat makan kapan saja karena kandang juga dilengkapi dengan bank pakan. Keunggulan lainnya adalah peternak tidak perlu mengamati waktu berahi sapi indukan, karena dengan pola pemeliharaan ini pejantan dapat digabung dengan sapi indukan dengan rasio 1:15 ekor sehingga proses perkawinan dapat terjadi secara alami.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kandang koloni model Litbangtan adalah :

  1. Sebaiknya kandang dipisahkan menurut fungsinya antara lain kandang kawin, kandang pembesaran, dan kandang indukan bunting. Kandang kawin diperuntukkan bagi calon-calon indukan yang siap kawin, setiap indukan diberi waktu 3-4 bulan (sampai bunting). Kandang pembesaran diperuntukkan bagi sapi umur 7-18 bulan. Sementara kandang indukan bunting diperuntukkan bagi sapi bunting hingga usia kebuntingan 9 bulan. Jika usia kebuntingan sudah mencapai 9 bulan, sebaiknya sapi dipindahkan ke kandang baranak dengan tipe individu.
  2. Ukuran dan kapasitas. Ukuran untuk sapi dewasa 3 m2 /ekor dan untuk pembesaran 2,5 m2/ekor. Semakin padat kandang akan semakin mudah becek.
  3. Tempat pakan dan minum. Tempat pakan dan minum dibuat palungan di sepanjang sisi luar kandang. Tempat pakan bisa terbuat dari kayu atau beton/semen, sedangkan tempat minum sebaiknya dari semen. Lebar dan tinggi bagian dalam 60 cm dan 40 cm.
  4. Bank pakan. Bank pakan berfungsi untuk menyediakan kebutuhan hijauan kering berupa jerami, rumput, atau hijauan lainnya. Ukuran bank pakan p x l x t = 4 x 1 x 3 m. pemberian pakan secar ad libitum sehingga dapat dikonsumsi setiap saat. Dengan adanya bank pakan dapat meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga kerja.

Kotoran sapi (feses + urine) yang berada di dalam kandang selama kurun waktu tertentu (2-3 bulan) telah mengalami proses dekomposisi secara alami sehingga saat dipanen (dikeluarkan dari kandang) sudah bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik tanpa melalui proses pengolahan secara konvensional.  Berdasarkan penelitian Jauhari Efendy dkk, (2016) kandungan kompos telaah memenuhi standar SNI. Kandungan Unsur Makro (N, P dan K) Unsur makro sebagai penyuplai unsur hara dalam tanah merupakan indikator utama yang dapat mengindikasikan kualitas kompos. Kandungan unsur makro kompos yang dihasilkan dari kotoran (feses + urine) sapi melalui proses dekomposisi secara alami adalah :  N 0.80%, P 0,51% dan K 0.74%.

Disamping kandungan unsur makro; C/N rasio, pH dan warna juga menjadi indikator utama kualitas kompos terutama aplikasinya ke tanaman dan manfaatnya dalam memperbaiki struktur tanah. Data kandungan C/N rasio sebesar 23,5 %, pH sebesar 8,8% dan kompos berwarna kehitaman.