JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penyakit Utama Tanaman Jeruk

Usaha tani yang dilakukan oleh masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung lebih dominan pada komoditas perkebunan seperti lada, karet dan kelapa sawit namun komoditas hortikultura juga masih menjadi pilihan bagi sebagian masyarakat terutama di wilayah Kabupaten Bangka Tengah. Dengan terbitnya keputusan Menteri Pertanian tentang kawasan hortikultura di wilayah Kabupaten Bangka Tengah, menjadikan kabupaten ini sebagai sentra komoditas hortikultura di Provinsi Bangka Belitung. Beberapa komoditas hortikultura andalannya adalah tanaman bawang merah, cabai, jeruk dan buah naga. Beberapa tahun terakhir tanaman jeruk mulai diminati dan dibudidayakan secara intensif oleh petani di Kabupaten Bangka Tengah karena tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi baik serta memberikan keuntungan lebih terhadap hasilnya.

Salah satu kendala yang dialami oleh petani jeruk di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terutama Kabupaten Bangka Tengah adalah rendahnya produksi jeruk yang dihasilkan baik kualitas maupun kuantitas. Penyebab utama rendahnya produksi jeruk di Indonesia yaitu wabah penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) dan kedua sistem usahatani jeruk bervariasi antar petani maupun antar daerah mengakibatkan beragamnya serangan hama dan penyakit lainnya yang mengakibatkan kerugian di beberapa sentra produksi jeruk. Untuk meningkatkan mutu dan pencegahan berlanjutnya penurunan hasil akibat serangan penyakit pada tanaman jjeruk, pengetahuan mengenai penyakit jeruk menjadi hal penting untuk dipelajari beserta cara pengendaliannya. Pengendalian hama dan penyakit yang direkomendasikan tentunya berdasarkan pada prinsip pengelolaan hama dan penyakit terpadu yang lebih bersifat pengelolaan ekosistem yang sehat sehingga dapat mengurangi intensitas serangan dengan harapan produk akhir yang dihasilkan aman bagi konsumen, produsen maupun lingkungan hidup.

 

Penyakit Utama Tanaman Jeruk

 

  1. Penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration)

Penyakit CVPD disebabkan oleh serangan bakteri Liberibacter asiaticus yang ditularkan oleh serangga kutu D.citri. Gejala khas CVPD adalah belang belang kuning tidak merata mulai berkembang pada ujung tanaman, pada daun yang ketuaannya sempurna bukan pada daun muda atau tunas. Gejala pada tanaman muda, ditandai dengan kuncup yang berkembang lambat,pertumbuhan menjulang ke atas, daun menjadi lebih kecil dan ditemukan gejala belang belang. Pada gejala berat, daun bisa menguning seluruhnya, daun menjadi kaku dan menebal. Gejala ini merupakan indikator adanya kerusakan berat pada jaringan pembuluh angkut tanaman.

Pencegahan penyakit CVPD dengan cara Pengelolaan Terpadu Jeruk Sehat (PTKJS)  yang meliputi lima komponen teknologi yaitu

  1. Penggunaan bibit jeruk sehat dan bermutu yang bebas dari penyakit.

Dengan menanam bibit jeruk yang sehat dan bermutu akan dihasilkan pohon-pohon jeruk yang kokoh dan seragam sehingga pemeliharaannya akan menjadi lebih mudah, efisien, produktivitas dan mutu buah terjamin serta masa berproduksi akan lebih lama.

  1. Pengendalian serangga Diaphorina citri.

Serangga ini sebagai penular CVPD, pengendaliannya dengan cara penyaputan batang dengan insektisida murni berbahan aktif Imidakloprid. Penyaputan batang dilakukan setiap  2-4 minggu. Pengendalian juga diiringi dengan penyemprotan insektisida berbahan aktif dimetoate, endosulfan, atau sejenisnya. Pemanfaatan musuh alami juga dapat dimanfaatkan sebagai pengendalian secara hayati.

  1. Sanitasi Kebun.

Pencegahan dengan sanitasi kebun dapat dilakukan dengan cara membuang bagian tanaman atau membongkar pohon yang sudah terserang CVPD. Tanaman yang telah terinfeksi CVPD harus dibuang dengn cara membongkar seluruh bagian tanaman termasuk akar tanaman.

  1. Pemeliharaan tanaman secara optimal.

Pemeliharaan tanaman meliputi pemupukan berimbang, penyiraman, pemangkasan bentuk, penjarangan buah dan pengendalian OPT.

  1. Konsolidasi pengelolaan kebun di suatu wilayah target pengembangan.

Konsolidasi antara kelompok dan petugas dengan PTKJS akan berhasil jika diterapkan secara benar dan menyeluruh dengan membentuk kawasan sentra produksi dengan melibatkan Gapoktan/Poktan.

 

  1. Penyakit Antraknose.

Penyakit disebabkan oleh serangan jamur Colletotrichum gloeosporiodes, serangan terjadi pada daun, ranting dan buah. Pada daun terdapat bercak coklat sampai hitam, bercak dapat berkembang ke pangkal dan dapat mengakibatkan mati pucuk. Pada tanaman besar menyebabkan ranting mati dan bercak pada buah meninmbulkan gejala kemerahan lama-lama menjadi cekung.

 

  1. Penyakit Blendok/Diplodia.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi jamur Botryodiplodia theobromae Pat. Penyakit diplodia dilihat dari gejalanya terdapat dua jenis yaitu diplodia kering dan diplodia basah. Diplodia basah ditunjukan dengan reaksi setelah infeksi, batang, cabang dan ranting mengeluarkan blendok berwarna kuning keemasan, dan pada stadia lanjut kulit tanaman mengelupas dan dapat mengakibatkan kematian. Diplodia kering gejala yang tampak yaitu kulit batang dan cabang akan mengelupas langsung mengering dan tidak mengeluarkan blendok sehingga gejala awal sulit diamati.

Pencegahan dan pengendalian penyakit blendok dapat dilakukan dengan cara :

  • Menjaga kebersihan kebun dengan memangkas tanaman terutama ranting kering dan cabang yang sudah terserang penyakit kemudian langsung dibakar.
  • Menjaga kebersihan alat pertanian. Gunting pangkas, pisau dan alat pertanian lainnya harus segera dicuci bersih setelah digunakan dan kemudian diolesi kapas yang telah dibasahi alkohol 70 %.
  • Menyaput batang dan cabang dengan bubur california.

 

Menyusun materi penyuluhan pertanian dalam bentuk bahan website

Judul                             : Penyakit Utama Tanaman Jeruk

Ditulis Oleh                  : Ria Maya, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)

Sumber Bacaan            : - Pengendaian Hama dan Penyakit Tanaman Jeruk( BPTP Bengkulu, 2013)

                                   - Inovasi Teknologi Tanaman Hortikultura (BPTP Bangka Belitung, 2010)

Sumber Gambar           : Koleksi Ria Maya, BPTP Bangka Belitung.