JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Penggerek buah kopi (PBKo) dan pengendaliannya

Sobat tani, ngopi sepertinya menjadi salah satu budaya di Indonesia. Kondisi ini terlihat dari banyaknya warung dan penikmat kopi yang dapat kita jumpai disetiap sudut daerah. Bahkan Kota Manggar, Belitung Timur, dijuluki sebagai kota seribu satu warung kopi, sehingga daerah Bangka Belitung memiliki potensi yang besar untuk membuka perkebunan kopi.

Pengendalian hama dan penyakit dalam kegiatan budidaya menjadi salah satu hal penting karena dapat mempengaruhi produktifitas dan mutu hasil dari tanaman yang kita budidayakan. Hama Hypothenemus hampei Ferr. merupakan hama penggerek buah kopi (PBko) dan salah satu hama penting. Penyebaran hama PBKo telah merata hampir di seluruh wilayah perkebunan kopi di Indonesia (CABI 2000). Di Sulawesi Selatan serangan hama ini menyebabkan kehilangan hasil antara 30-60% (Laila et al. 2011).

Intensitas serangan hama PBKo sangat bervariasi karena dipengaruhi umur tanaman, kondisi lahan dan sistem budidaya kopi. Contohnya, intensitas serangan hama PBKo pada lahan kopi dengan pohon penaung lebih rendah dibandingkan tanpa penaung (Kuruseng dan Rismayani 2010).

Penggerek buah kopi (H. hampei) adalah kumbang berbadan bulat dengan kepala berbentuk segitiga yang ditutupi oleh rambut-rambut halus. Kumbang H. hampei mengalami 4 tahap perkembangan, yaitu telur, larva, pupa dan imago yang memerlukan waktu selama 25-35 hari. Seekor betina dewasa dapat menghasilkan telur sebanyak 37 butir. Stadia telur selama 5-9 hari. Telur diletakkan di dalam biji kopi, menetas dan berkembang di dalamnya sampai buah kopi matang, baik yang masih di pohon maupun yang gugur di tanah. Serangga betina dewasa yang siap bertelur, aktif pada sore hari antara pukul 16.00-18.00 dan dapat terbang sejauh 350 m. Serangga jantan tinggal dalam biji kopi karena tidak dapat terbang.

Kumbang ini termasuk kategori hama langsung karena merusak bagian tanaman yang dipanen, yaitu buah dengan cara membuat lubang di sekitar diskus dan masuk ke dalam buah kopi. Ada dua tipe kerusakan yang disebabkan oleh hama ini, yaitu gugur buah muda dan kehilangan hasil secara kuantitas maupun kualitas. Buah kopi yang bijinya masih lunak umumnya hanya digerek untuk mendapatkan makanan dan selanjutnya ditinggalkan. Buah demikian tidak berkembang, warnanya berubah menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur. Serangan pada buah yang bijinya telah mengeras akan berakibat penurunan mutu kopi karena biji berlubang. Biji kopi yang cacat sangat berpengaruh negatif terhadap susunan senyawa kimianya, terutama pada kafein dan gula pereduksi.

Pengendalian hama PBKo cukup sulit dilakukan karena kumbang terdapat dan berkembangbiak di dalam buah kopi. Pengendalian hama PBKo yang efektif dapat dilakukan dengan menerapkan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) memadukan berbagai cara pengendalian seperti:

Sanitasi kebun dengan memangkas semua cabang dan ranting yang tua/kering atau yang tidak produktif serta melakukan penyiangan gulma.

Memupuk tanaman dengan pupuk yang seimbang menggunakan jenis dan dosis sesuai anjuran.

Memangkas pohon pelindung yang terlalu rimbun untuk memperbaiki temperatur dan kelembaban atau kondisi agroklimat.

Biologis (Agen Pengendali Hayati) dengan aplikasi jamur Beauveria bassiana dilakukan pada saat buah masih muda. Kebutuhan untuk 1 Ha kebun kopi yaitu 2,5 kg media biakan jamur B. bassiana selama 3x aplikasi per musim panen. Penyemprotan dilakukan pada sore hari dengan arah semprotan dari bawah daun.

Menggunakan perangkap serangga (hama penggerek buah kopi) yang lebih dikenal dengan nama Brocap Trap. Alat ini menggunakan dan dilengkapi dengan senyawa Hypotan. Hasil aplikasi di lapangan menunjukkan keragaan yang sangat baik, efektif, efisien dan ramah lingkungan (Peneliti Puslit Koka).