JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PENGENDALIAN ANTRKNOSA PADA CABAI

Cabe menjadi salah satu tanaman yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Dalam budidaya cabe baik itu cabai keriting, cabai besar, ataupun cabai rawit banyak petani yang mengeluhkan penyakit patek (antraknosa) karena penyakit ini sering kali menyerang dan bisa menyebabkan kegagalan panen. Balitbangtan (2016) melaporkan bahwa penyakit ini dapat menurunkan hasil panen berkisar antara 20 - 90 % terutama pada saat musim hujan.

Penyakit antraknosa disebabkan oleh serangan jamur Colletotricum sp. yang terdiri atas 3 jenis yaitu C. acutatum, C. gloeosporioides, dan C. capsici. Gejala awal pada buah berupa bercak cokelat kehitamann dan berair. Ukuran bercak dapat mencapai 3 - 4 cm pada buah cabai besar. Pada tahap awal infeksi konidia Colletotrichum sp. yang berada di permukaan kulit buah cabai akan berkecambah dan membentuk tabung perkecambahan. Setelah itu, tabung perkecambahan berpenetrasi ke lapisan epidermis kulit buah cabai sehingga terbentuk jaringan hifa. Kemudian hifa intra dan interseluler menyebar ke seluruh jaringan dari buah cabai. Serangan lanjut akan tampak seperti luka terbakar matahari, berwarna merah tua sampai coklat menyala hingga warna hitam yang dapat menyebabkan seluruh buah mengering dan mengerut (keriput). Colletotrichum sp dapat berkembang dengan cepat selama penyimpanan jika kelembaban udara tinggi. Serangan jamur juga dapat menyebabkan bercak pada daun, cabang atau ranting. Colletotrichum sp menyebar melalui percikan air dan jarak pemencaran akan lebih jauh jika disertai hembusan angin. Penyakit ini telah menyebar luas di daerah-daerah pertanaman cabai yang kondisinya sangat lembab atau daerah dengan curah hujan tinggi dan jamur dapat bertahan pada sisa-sisa tanaman yang sakit

Beberapa upaya pengendalian yang dapat dillakukan diantaranya:

  1. Menggunakan benih yang sehat dan tahan penyakit antraknosa, karena Colletotrichum merupakan patogen yang dapat bertahan pada benih.
  2. Lakukan perendaman benih dalam air panas (sekitar 55 oC) selama 30 menit sebelum ditanam.
  3. Memusnahkan bagian tanaman, baik daun, batang atau buah yang terinfeksi.
  4. Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantulkan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman, sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
  5. Lakukan rotasi tanam dan atur jarak tanam yang agak lebar yaitu sekitar 65 – 70 cm (lebih baik 70 cm) dan ditanam secara zig-zag ini bertujuan untuk mengurangi kelembaban dan sirkulasi udara cukup lancar karena jarak antar tanaman semakin lebar, keuntungan lain buah akan tumbuh lebih besar.
  6. Tambahkan unsur Kalium dan Kalsium untuk membantu pengerasan buah cabai.
  7. Pengelolaan drainase yang baik terutama di musim penghujan, dengan cara meninggikan guludan tanah.
  8. Jangan gunakan pupuk nitrogen (N) terlalu tinggi, misal pupuk Urea, Za, ataupun pupuk daun dengan kandungan N yang tinggi. Sebaiknya gunakan pupuk dasar NPK yang rendah kandungan nitrogennya dengan kocoran karena unsur N akan membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban di sekitar tanaman (iptek hortikultura, 2014)