Kopi dan Peluang Pengembangannya di Indonesia

 
Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke 3 sebagai negara pengekspor kopi terbesar di dunia setelah negara Brazil dan Vietnam (Rukmana, 2014). Komoditas kopi di Indonesia menjadi salah satu komoditas yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai produk ekspor andalan. Peluang ekspor tersebut didasari karena konsumsi kopi yang semakin meningkat tiap tahunnya terutama di negara-negara pengonsumsi kopi seperti Jepang, Uni Eropa, dan Amerika Serikat. Data dari International Coffee Organization (ICO) menunjukkan bahwa trend peningkatan konsumsi kopi dunia terjadi sejak tahun 2010 dengan jumlah peningkatan rata-rata sebesar 2.5%/tahun. Pada tahun 2020 diperkirakan kebutuhan kopi dunia akan mencapai 10.3 juta ton (ICO, 2019).
 
Sebagian besar kopi Indonesia merupakan jenis robusta dengan proporsi sebesar 81.96% dengan luasan lahan rata-rata sebesar 1.04 juta hektar pada tahun 2017. Sebagian besar kopi tersebut diekspor ke berbagai negara di dunia. Amerika dan Jepang merupakan pengimpor kopi Indonesia terbesar, dimana masing-masing memiliki pangsa impor sebesar 16.24% dan 8.64% (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, 2017).
Berdasarkan data dari International Coffee Organization konsumsi kopi di Indonesia juga terus mengalami peningkatan dari tahun ketahun. Kenaikan rata-rata konsumsi kopi di Indonesia mencapai 3,4% pertahunnya. Meningkatnya konsumsi kopi dalam negeri berpeluang dalam upaya peningkatkan kesejahteraan petani. Peluang tersebut di dukung dengan potensi sumberdaya lahan perkebunan kopi seluas 1,3 juta hektar yang menopang sekitar 5 juta keluarga petani dan sebagai pendorong agribisnis.
Keberhasilan agribisnis kopi membutuhkan dukungan semua pihak yang terkait dalam proses produksi kopi mulai dari penyediaan benih unggu hingga pengolahan dan pemasaran komoditas kopi. Upaya meningkatkan produktivitas dan mutu kopi terus dilakukan sehingga daya saing kopi di Indonesia dapat bersaing di pasar dunia. Komoditas kopi tersebar di berbagai wilayah dari Sabang sampai Merauke. Sebagian perkebunan kopi tersebut adalah perkebunan rakyat milik petani dan sisanya milik pemerintah dan swasta.
Di Bangka Belitung sudah merupakan budaya yang mengakar sejak jaman dahulu. Bangka Belitung terkenal sangat piawai dengan baristanya dalam meracik berbagai formulasi kopi. Berbagai outlet kopi menjamur seakan tak bisa dibendung mulai dari warung/kedai kopi hingga cafe-cafe kopi modern, yang saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup khususnya kaum milenial. Seperti halnya beberapa kedai kopi legendaris yang terdapat di Bangka Belitung antara lain, Tung Tau, Kopi Tiam, Ake, Kong Djie dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan Kota Manggar, di Belitung Timur yang terkenal dengan 1001 warung kopi, karena hampir di sepanjang jalan dan sudut-sudut kota selalu dijumpai warung-warung kopi.
Oleh karena itu pengembangan kopi perlu didukung dengan ketersediaan benih unggul yang berkualitas sehingga benih menjadi penentu keberhasilan dalam pembangunan pertanian berkelanjutan “Inovasi perbenihan kunci pembangunan pertanian kerberlanjutan dan berdampak paling besar untuk keberhasilan Benih unggul menjadi salah satu sarana produksi untuk meningkatkan produksi, mutu dan standar kualitas produk tanaman pangan dan hortikultura. Benih juga dapat mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045.
#InovasiTiadaHenti
#JayalahPertanianIndonesia
#MajuMandiriModern