JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

PERTEMUAN KORDINASI DAN KONSULTASI PEMBANGUNAN PERKEBUNAN PROVINSI BABEL TA. 2021 - 2024

 
BELITUNG - Kementerian Pertanian serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bangka Belitung lakukan pertemuan konsultasi dan kordinasi bidang perkebunan guna mendukung pembangunan bidang program di Provinsi Babel (2020 - 2024). Kegiatan ini dilaksanakan hari ini (05/07/21) di Shantika Hotel Belitung. Adapun tujuan dilakukan pertemuan ini dalam rangka : (1). Menyamakan persepsi antar program Kementan, Provinsi dan Kabupaten/Kota, (2). Identifikasi masalah dan mencari solusi dan kebijakan, (3). Duskusi masalah dan tantangan terkait pengembangan perbebunan rakyat, dan (4). Menyelaraskan program dan sinergi pembangunan perkebunan di Babel.
 
Kegiatan pertemuan kordinasi dan konsultasi pembangunan perkebunan ini juga dihadiri oleh Gubernur Babel Erzaldi Rosman, Ditjenbun Kementan, Kepala BPTP Babel, Kepala Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, Perwakilan BI Babel, BPS Bavel, Kepala Station Klimatologi Koba, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Prov. Babel, Staf Ahli Bupati Belitung, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan se Babel, Ketua BP3L, dan Ketua Koperasi Lada Babel.
Dalam sambutannya Gubernur Babel Erzaldi Rosman menyampaikan bahwa pembanguan perkebunan di Babel diperlukan strategis yang tepat, dukungan perbenihan, berorientasi ekspor dan pemilihan komoditas yang cocok serta harus sudah ada off-takernya. Ujar Gubernur Babel. Komoditas tersebut antara lain : jambu mete, jahe merah, serai wanggi, kopi dan lada.
 
Khusus untuk pengembangan kopi Gubernur minta agar dicermati betul terkait dengan indikator lahan serta jenis kopi yang akan dikembangkan sehingga mutu, produksi, produktivitas, daya saingnya meningkat serta dapat menembus pasar ekspor.
Selanjutnya paparan dari para narasumber antara lain dari Perwakilan BI Babel, BPS Babel, BPTP Babel dan Karantina Kelas II A Pangkalpinang. Paparan dari BPS Babel menyampaikan bahwa sektor pertanian di Babel khususnya bidang perkebunan masih menujukan nilai positif PDRB nya mengalami lonjakan melampaui NTP rata-rata. Laporan 1 juli 2021 nilai NTP sebesar 121% ini menunjukan ada peningkatan kesejahteraan petani. Namun demikian peningkatan nilai NTP ini masih didominasi oleh komoditas kelapa sawit.
 
Kepala BPTP Babel Dr. Suharyanto menyampaikan tentang pentingnya inovasi teknologi dalam pembangunan perkebunan di Babel dan harus berbasis kawasan, dikelola hulu-hilir, verorientasi nilai tambah dan berorientasi ekspor.
Agar pengembangan komoditas dibebel dapat menembus pasar ekspor maka teknologinya harus sesuai dengan GAP, GHP termasuk brending produk serta rantai pasoknya terjamin dan promosi terus digencarkan. Ujar Suharyanto dalam paparannya.
Sedangkan dari Kepala Karantina Kelas II A Pangkalpinang menyampaikan peluang ekspor dari Babel masih cukup tinggi selain komoditas pertanian seperti lada, sawit dan produk turunannya, tepung tapioka, lidi nipah, karet, manggis, dan durian.
Selain itu ada juga ada komoditas lain yang cukup prospektif yaitu sarang burung walet. Nilai ekspor sarang burung walet dari Bebel pertahun mencapai sekitar 26 ton/tahun dimana 7 ton dari pulau Belitung dan 20 ton berasal dari Pulau Bangka. Namun demikian ekspor ini masih via Jakarta sehingga harganya baru mencapai 10 - 15 juta/kg. Kalo ekspor sarang burung walet ini dapat dilakukan via Babel harganya dapat mencapai 30 - 40 juta/kg. Ujar Kepala Karantina Kelas II A Pangkalpinang. Namun demikian masih harus dipenuhi persyaratan ekspornya.
 
Gubernur Babel Erzaldi Rosman berharap agar sarang burung walet ini dapat diekspor dari Babel langsung sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dan PAD.
Paparan terakhir disampaikan oleh Ditjenbun Kementan, dimana Kementerian pertanian masih memberikan suprot dan dukungan logistik benih untuk pengembangan kawasan perkebunan, berbasis korporasi serta dukungan anggaran melalui KUR.
Kegiatan selanjutnya dilajukan tanya jawab dan diskusi dan pada siang hingga sore dilakukan pendalaman dan evaluasi dengan Bidang perkebunan Kabupaten/Kota.