JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Sistem Usaha Tani Terpadu Sayuran – Ternak berwawasan Konservasi di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah

Pengkajian sistem usahatani terpadu tanaman sayuran-ternak berwawasan konservasi dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan keluarga tani melalui inovasi teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan dapat mensubstitusi tanaman tembakau telah dilakukan di Desa Canggal, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung pada Kelompok Tani Kerso Maju yang beranggotakan 24 petani. Metode yang digunakan adalah model partisipatif antara  petani sebagai pelaksana kegiatan, penyuluh sebagai pendamping dan peneliti sebagai narasumber sekaligus fasilitator. Data yang dikumpulkan berupa parameter agronomi, biologi,  ekonomi dan sosial. Desa Canggal merupakan wilayah dengan agroekosistem lahan kering dataran tinggi iklim basah, terletak di lereng gunung Sindoro dengan tingkat kelerengan 15−30% memiliki kondisi biofisik lahan sesuai untuk sebagian besar komoditas sayuran. Faktor pembatas utama adalah bahaya erosi. Inovasi teknologi yang diintroduksikan yaitu teknologi pengelolaan sumberdaya lahan berwawasan konservasi (pola tanam ganda, penanaman rumput di bibir teras, guludan searah/memotong kontur, perbaikan saluran pembuangan air, penggunaan mulsa dan rekomendasi pemupukan spesifik lokasi berdasarkan kesuburan tanah dan kebutuhan tanaman akan hara). Komoditas sayuran yang diusahakan adalah sayuran yang bernilai ekonomi tinggi yaitu kentang olahan, cabai, bawang merah, tomat, bawang daun, kubis. Inovasi teknologi yang diintroduksikan pada komponen ternak adalah sistem perkandangan, pemilihan jenis ternak, sistem pemberian pakan, penanganan kesehatan, pembuatan kompos dan penanaman tanaman hijauan pakan. Inovasi teknologi pascapanen yang dilaksanakan yaitu produksi keripik kentang dengan bahan baku yang berasal dari hasil panen sendiri. Kegiatan pascapanen dikelola oleh kelompok wanita tani (KWT). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pola pertanaman polikultur mampu menurunkan tingkat erosi dan memberikan keuntungan lebih besar bagi petani. Besar erosi dilahan monokultur sebesar 33,5 ton/ha/musim sedangkan dilahan polikultur 1,7 ton/ha/musim. Komoditas tomat dan cabai dapat mensubstitusi komoditas tembakau, dengan nilai R/C berturut-turut 2,30; 1,74;  dan 1,79. Biaya produksi untuk menghasilkan satu kg tembakau lebih besar daripada untuk menghasilkan 1 kg tomat, cabai dan kubis, yaitu berturut-turut 4601; 979; 1910; 387-1004 rupiah. Populasi ternak domba dari 12 ekor pejantan dan 48 ekor betina selama satu tahun bertambah menjadi 27 pejantan dan 70 betina. Dengan berkembangnya SUT berbasis sayuran dataran tinggi terintegrasi dengan domba yang didasari konservasi, diharapkan berdampak pada terjaganya kelestarian lingkungan serta meningkatkan produktivitas lahan yang bermuara pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Kata kunci: Sistem usaha tani, terpadu, konservasi, dataran tinggi