JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Konsep Rencana Aksi Revitalisasi Lada Putih “Muntok White Pepper” di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam satu dasawarsa terakhir situasi perkebunan lada kita mengalami kemunduran dari semua segi. Dari segi yang paling umum terlihat pada  luas pertanaman, produksi, dan ekspor mengalami kemunduran yang sangat signifikan, apalagi dari segi inovasi hampir tidak ada kemajuan kalaupun tidak disebut kemunduran. Indonesia yang merupakan daerah tropis penghasil utama lada, situasi ini tentu sangat mengkhawatirkan, terutama bila tidak ada perhatian khusus kita akan dapat menjadi pengimpor.

Secara jelas kenyataan ini dapat terlihat di daerah-daerah pusat produksi lada. Provinsi Bangka-Belitung yang sejak lama dikenal menjadi  pusat produksi lada putih, kondisi sebagian besar pertanaman petani sangat memprihatinkan, pemeliharaan sangat minimum bahkan tanpa pemeliharaan. Di Provinsi Lampung yang dikenal sebagai pusat produksi lada hitam, kondisinya tidak jauh berbeda dengan yang di Bangka-Belitung. Beberapa wilayah lain yang secara tradisional menjadi daerah produsen lada yang sukses seperti Kalimantan Barat kondisinya “setali tiga uang”.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya gejala tersebut, tetapi yang paling pasti adalah faktor harga komoditas yang cenderung rendah dengan gejolak yang besar sehingga tidak cukup menarik bagi petani untuk berinovasi meningkatkan produksi perkebunannya. Selain itu  tanaman ini merupakan tanaman yang batangnya tidak berkayu, sukulen, dan merambat, sehingga sangat mudah terserang hama dan penyakit, terutama infeksi jamur,  bakteri, serangga dan bahkan nematoda. Untuk tanaman tahunan, hal ini merupakan masalah yang sangat pelik karena kerugian besar yang timbul dan secara teknis penyulaman tidak dapat mengejar produksi. Pada gilirannya produktivitas lada menjadi sangat rendah, tidak hanya karena produktivitas per pohon  yang sangat rendah tetapi juga populasi per luasannya cepat berkurang.

Akibat dari kedua faktor tersebut banyak petani meninggalkan tanaman lada dan beralih ke tanaman lain, seperti kopi, kakao, karet dan kelapa sawit. Padahal secara crop ecologis tanaman lada lebih sesuai dibandingkan timah yang merusak lingkungan dan kelapa sawit yang menghendaki radiasi surya tinggi.  Menurut Wahyudi (1989), pada dasarnya tanaman lada masih dapat memiliki daya saing yang lebih baik dari berbagai tanaman tersebut, bila pengelolaannya dapat dilaksanakan dengan lebih baik dari yang ada sekarang. Selain pengelolaan, kondisi yang sangat mendukung pengembangan lada di Bangka adalah adanya tipe iklim yang bimodal. Adanya 2 puncak musim kemarau yaitu Januari dan April-Juni. Kemarau pendek pada bulan Januari mendorong pembentukan bunga. Selanjutnya bunga yang terbentuk, akan disempurnakan lagi perkembangan buahnya pada kemarau yang lebih panjang pada April-Juni sehingga menaikkan produktivitas. Sebagai cermin beberapa negara tetangga seperti Thailand, Malaysia, dan Vietnam, yang pasti menghadapi persoalan serupa, masih mampu meningkatkan kinerja, paling tidak dari produksi dan ekspor yang masih meningkat. Secara logika pasti ada yang salah dengan perkebunan kita.  Pada dasarnya upaya yang dilaksanakan bukanlah hal-hal yang sama sekali baru atau spektakuler, tetapi sudah menjadi pengetahuan umum masyarakat, hanya tidak diterapkan untuk mempertahankan dan mengembangkan kinerja lada, yaitu pelaksanaan rekomendasi teknis sesuai dengan kondisi spesifik setempat dan didukung oleh kelembagaan sebagai wahana dari penerapan rekomendasi teknis.

Makalah ini bertujuan untuk memberikan alternatif model untuk kebangkitan lada Indonesia dengan komponen utama model inovasi teknis dan model inovasi kelembagaan pendukungnya. Kedua model tersebut dibahas secara sekuensial dan holistik, karena pada dasarnya keduanya merupakan dua sisi dari sekeping mata uang.