Potensi dan Peluang Agribisnis Kopi di Babel : GAP dan GHP Harus Sejalan

Mengulas komoditas yang satu ini seakan tak kan pernah habis untuk diperbicangkan, terlebih sambil menikmatinya. Kopi bagi masyarakat Bangka Belitung sudah merupakan budaya yang mengakar sejak jaman dahulu. Bangka Belitung terkenal sangat piawai dengan baristanya dalam meracik berbagai formulasi kopi. Berbagai outlet kopi menjamur seakan tak bisa dibendung mulai dari warung/kedai kopi hingga cafe-cafe kopi modern, yang saat ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup khususnya kaum milenial. Seperti halnya beberapa kedai kopi legendaris yang terdapat di Bangka Belitung antara lain, Tung Tau, Kopi Tiam, Ake, Kong Djie dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan Kota Manggar, di Belitung Timur yang terkenal dengan 1001 warung kopi, karena hampir di sepanjang jalan dan sudut-sudut kota selalu dijumpai warung-warung kopi.
 
Namun sayang sekali bahan mentah atau biji kopi untuk menghasilkan itu semua masih harus didatangkan dari luar Bangka Belitung. Lampung, Sumatera Selatan dan beberapa daerah penghasil kopi di Nusantara masih mendominasi sebagai pensuplay utama biji kopi sebagai bahan racikan. Hal ini tentunya memang setiap wilayah memiliki keunggulan spesifik yang mengacu pada indikasi geografis, yang membedakan cita rasa dan kualitas dari masing-masing wilayah. Bangka Belitung sesungguhnya juga memiliki potensi sebagai penghasil biji kopi, selain lada yang sejak lama sebagai komoditas unggulan. Saat ini luas lahan kopi di Bangka Belitung mencapai 53 ha dengan provitas 0.56 t/ha/tahun. Berdasarkan data BPS Babel 2019 wilayah pengembangan kopi terluas terdapat di kabupaten Bangka Tengah, Belitung Timur dan Belitung Timur. Trend peningkatan luas lahan kopi juga menunjukkan peningkatan dari tahun ketahun, hal ini menunjukkan animo masyarakat yang meningkat untuk menanam kopi. Bahkan beberapa wilayah telah lama mendeklarasikan sebagai penghasil kopi walaupun bersifat spot-spot, sebut saja kopi Kopling di Bangka, kopi Kater di Belitung Timur dan kopi bukit Pading di Bangka Tengah.
 
Peluang peningkatan produktivitas tersebut tentunya masih dapat ditingkatkan melalui penerapan Good Agricultural Practice (GAP) yang baik dan benar. Salah satu faktor penentunya adalah penggunaan bahan tanam dari klon yang memiliki potensi hasil tinggi. "Klon unggul" disini merupakan tanaman yang dihasilkan dari dua induk untuk menghasilkan tanaman yang unggul. Penggunaan tanaman klon unggul akan meningkatkan potensi produktivitas kopi. Jenis kopi yang memiliki daya adaptabilitas untuk agroekosistem Bangka Belitung yang didominasi dataran rendah adalah kopi robusta, sedangkan arabika akan lebih rentan terhadao penyakit karat daun jika ditanam pada dataran rendah. Saat ini Balitbangtan BPTP Babel, tengah mengembangkan beberapa klon unggul dari Puslitkoka dan Balitri seluas 2 hektar baik yang akan digunakan sebagai kebun produksi maupun kebun entres. Beberapa klon unggul tersebut antara lain BP308, BP409, BP939, SA237, SA203, BP305, BP936, BP858 dan BP308.
GAP lainnya dalam rangka peningkatan produktivitas kopi antara lain melakukan pemangkasan, pemupukan, penyiangan secara rutin dan juga memberikan pohon pelindung/penaung. Meskipun nampaknya sederhana, pada kenyataannya juga belum banyak dilakukan. Hal ini dimungkinkan ketidaktahuan petani ataupun ketidakmampuan petani untuk menjalankan GAP yang tepat, karena beberapa faktor baik ekonomi maupun lingkungan. Tanaman penaung merupakan komponen penting budidaya kopi, bahkan kopi juga dapat ditumpangsarikan dengan lada, yang juga akan kompatibel jika menggunakan tiang panjat hidup.
 
Peningkatan produktivitas kopi tentunya juga harus diikuti dengan kualitas kopi. Karena bagaimanapun muara dari harga jual kopi adalah kualitas kopi yang dihasilkan. Kualitas kopi yang dihasilkan diukur melalui karakteristik rasa kopi yang dihasilkan yang diawali dari proses panen yang baik. Hal ini dapat diawali melalui panen selektif buah matang (petik merah) dan sortasi. Hasil panen yang bercampur antara buah bagus dan kurang bagus akan menurunkan kualitas dari kopi yang dipanen tentunya. Kopi yang diolah dengan hanya memperhatikan kuantitas tidak akan menghasilkan kopi dengan kualitas yang tinggi. Harapannya semakin berkualitas maka semakin tinggi harga jual kopi yang akan diterima para petani nantinya, sehingga hulu-hilir harus dikerjakan bersamaan.
Sumber: Koleksi BPTP Kep. Bangka BelitungSumber: Koleksi BPTP Kep. Bangka BelitungSumber: Koleksi BPTP Kep. Bangka BelitungSumber: Koleksi BPTP Kep. Bangka BelitungSumber: Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung
 
Sumber: Koleksi BPTP Kep. Bangka Belitung