Peluang dan Kendala Pengembangan Ternak Sapi Potong di Bangka Belitung (Babel)

#SobaTani, Menghadapi hari keagamaan khususnya lebaran haji maupun komsumsi rumah tangga kebutuhan sapi potong di Babel hingga tahun 2018 mencapai 13.663 ekor/tahun, sementara itu populasinya pada tahun yang sama baru mencapai 13.760 ekor (BPS Babel, 2019). Artinya kalau tidak ada ternak yang masuk dalam 1 tahun maka populasi yang ada di Babel akan habis dipotong. Ini merupakan peluang dan tantangan untuk pengembangan ternak sapi potong di Bangka Belitung. Namun yang jadi kendala di Babel yaitu budaya beternak dimana petani Babel pada umumnya petani pekebun sehingga lambat adopsi teknologinya. Sedangkan peluangnya cukup baik dari sisi kebutuhan -nya terus bertambah setiap tahun serta dari sisi harganya cukup bagus 100 -110 rb/kg dan menjelang lebaran baik lebaran idul fitri dan lebaran haji harganya diatas 110 rb bahkan bisa mencapai 120 - 130 rb/kg. Begitu juga harga sapi untuk lebaran haji cukup baik.

Melihat data diatas cukup menarik untuk mengulas sapi potong ini, dimana ternak sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ternak sapi dapat memenuhi berbagai macam kebutuhan manusia, terutama sebagai bahan makanan berupa daging, disamping hasil ikutan lainnya seperti pupuk kandang, kulit, tulang, dan lain sebagainya. Daging sangat berperan besar bagi pemenuhan gizi protein hewani.

Sapi sebagai salah satu hewan pemakan rumput sangat berperan sebagai pengumpul bahan makanan bergizi rendah yang diubah menjadi bahan makanan bergizi tinggi, kemudian diteruskan kepada manusia dalam bentuk daging. Oleh karena itu untuk pemeliharaan ternak, pakan menjadi faktor utama oleh karena itu Hijauan Makanan Ternak (HMT) sebagai cadangan pakan wajib ada. Beberapa jenis rumput cukup adaptif dan dapat tumbuh dengan baik dan kaya proteinnya seperti ; rumput odot, BD dan masih banyak lagi. Namun demikian untuk mendukung produksi ternak harus diupayakan mencari pakan alternatif lain yang potensial, murah dan mudah diperoleh. Salah satu upaya untuk menyediakan pakan yang cukup bagi ternak adalah memanfaatkan seoptimal mungkin lahan, serta pemanfaatan limbah dan produk samping komoditi tanaman pagan seperti jerami, onggok serta limbah perkebunan baik dengan pola integrasi maupun diversifikasi. Usaha ini sekaligus dapat memberi nilai tambah bagi perkebunan, petani dan peternak.

Perkebunan kelapa sawit berpotensi untuk mengembangkan peternakan ruminansia khususnya sapi. Perkebunan kelapa sawit di Babel juga berkembang pesat. Hingga saat ini luas perkebunan sawit rakyat di Babel mencapai 69 ribu hektar sedangkan perusahaan kelapa sawit ada 57 perusahaan dengan luas lahannya mencapai sekitar 230 ribu hektar (BPS Babel, 2019). Data luas lahan perkebunan kelapa sawit baik itu perkebunan rakyat maupun perusahaan kelapa sawit, memberikan peluang bagi petani maupun perusahaan perkebunan sawit untuk memanfaatkan hasil sampingan dari perkebunan sawit sebagai pakan sapi potong.

Hasil samping perkebunan kelapa sawit sebagai berikut :
1. Pelepah Daun Sawit
Hasil pengamatan di PT. Agricinal menunjukkan bahwa setiap pohon kelapa sawit dapat menghasilkan 22 pelepah/tahun dengan bobot pelepah per batang rata-rata 7 kg (Dwiyanto et al. 2004).
Jumlah ini setara dengan 20.020 kg (22 pelepah x 130 pohon x 7 kg) pelepah segar untuk setiap hektar dalam setahun. Total Bahan Kering (BK) pelepah yang dihasilkan dalam setahun mencapai 5.219 kg/ha (20.020 kg x 26,07%). Jika diasumsikan kebutuhan BK ternak dengan bobot 300 kg adalah 9 kg (3 % x 300 kg), maka kebutuhan BK selama 1 tahun adalah 3.285 ton/ekor (9 kg x 365 hari). Jika pelepah daun sawit hanya boleh diberikan 50% dari suplai Hijauan Makanan Ternak (HMT), maka 1 hektar lahan kelapa sawit potensial dapat memenuhi kebutuhan 3 ekor sapi/tahun (5.219 kg / 3.285 kg / 50%).
Tingkat kecernaan bahan kering pelepah dan daun kelapa sawit pada sapi mencapai 45%. Demikian pula daun kelapa sawit dapat digunakan sebagai sumber atau pengganti pakan hijauan. Namun, adanya lidi pada pelepah daun kelapa sawit akan menyulitkan ternak dalam mengkonsumsinya. Masalah tersebut dapat diatasi dengan perancangan alat pencacah yang tepat sehingga dapat diperoleh cacahan pelepah dan daun beserta lidi dengan ukuran 0,5 – 1 cm. PPKS telah berhasil memproduksi alat tersebut sehingga pemanfaatan pelepah daun kelapa sawit sebagai bahan pakan sapi dapat mencapai 70%. Pemberian pelepah kelapa sawit sebagai bahan pakan sapi dalam jangka panjang menghasilkan kualitas karkas yang baik (Balai Penelitian Ternak, 2003).

2. Bungkil Inti Sawit
Bungkil Inti Sawit (BIS) adalah produk samping dari ekstraksi minyak inti sawit melalui proses kimiawi atau cara mekanik. Rendemen bungkil inti sawit mencapai ± 50 % dari berat inti sawit.
Walaupun kandungan proteinnya agak baik tapi karena serat kasarnya tinggi dan palatabilitasnya rendah menyebabkan kurang cocok bagi ternak monogastrik dan lebih cocok pada ternak ruminansia. Bungkil inti sawit merupakan produk samping yang berkualitas karena mengandung protein kasar yang cukup tinggi 16 – 18%. Sementara kandungan serat kasar mencapai 16 %. Pemanfaatannya perlu disertai produk samping kelapa sawit lainnya untuk mengoptimalkan penggunaan bungkil inti sawit bagi ternak. Bungkil inti sawit dapat diberikan 30% dalam pakan sapi (Batubara et al, 1993).

3. Serat Perasan Buah Kelapa Sawit (Ampas Pressan)
Serat perasan buah merupakan limbah yang diperoleh dari buah dalam proses pemerasan. Limbah ini biasa digunakan sebagai bahan bakar boiler di PMS dan abunya digunakan sebagai pupuk karena kaya akan unsur K. Sebagai bahan campuran makanan ternak, serat perasan buah kelapa sawit ini cenderung cocok diberikan kepada ternak ruminansia (seperti sapi, kerbau), karena kandungan serat kasarnya dan ligninnya tinggi. Tingkat penggunaan serat perasan kelapa sawit dalam pakan sapi dan kerbau adalah 10 – 20 %, sedangkan untuk domba dan kambing 10 – 15 % (Jalaludin dan Hutagalung, 1982).
Untuk sapi perah, serat perasan buah kelapa sawit dapat diberikan sebagai pengganti rumput disertai dengan pemberian molases, urea, mineral dan vitamin.
Serat perasan buah kelapa sawit yang dapat diberikan kepada ternak sapi ± 20% dari total ransum, karena jika lebih tinggi akan menghalangi tingkat kecernaan.

4. Tandan Kosong Sawit (Tankos)
Tandan kosong mengandung serat kasar yang tinggi, yang diindikasikan dengan kandungan serat detergen asam (ADF) yang mencapai 61%, serta memiliki nilai biologis yang rendah. Oleh karena itu, pemanfaatannya disarankan dicampur dengan bahan pakan yang berkualitas dan harus dicacah terlebih dahulu agar ukurannya layak dikonsumsi (± 2 cm). Tankos belum digunakan dalam ransum sapi karena memerlukan perlakuan awal yang cukup rumit.

5. Lumpur Sawit / Solid
Lumpur sawit merupakan hasil ikutan ekstraksi minyak sawit dan mengandung air cukup tinggi. Produk samping ini dapat menimbulkan masalah lingkungan sehingga upaya untuk mengatasinya dilakukan dengan mengurangi kandungan air lumpur sawit untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan pakan. Produk hasil pemisahan lumpur sawit dari airnya disebut solid.
Lumpur sawit mengandung protein kasar 12-14%, namun kandungan air yang tinggi (75%) menyebabkan produk samping ini kurang disukai ternak. Kandungan energi yang rendah dengan abu yang tinggi menyebabkan lumpur sawit tidak dapat digunakan secara tunggal sebagai pakan.

Salah satu upaya untuk meningkatkan palatabilitas pakan ternak adalah melalui proses fermentasi. Berdasarkan hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), padatan dari aliran drab akhir (solid) dan tandan kosong sawit yang telah difermentasi menggunakan jamur tiram dan omphalina cukup prospektif untuk dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak.